Pemilik usaha sering bertanya: “Penjualan ramai dan laporan menunjukkan laba, tetapi mengapa uang di rekening sedikit?” Salah satu jawabannya adalah perbedaan laba dan arus kas.

Laba tidak selalu sama dengan uang masuk

Laba dihitung dari pendapatan dan beban sesuai kebijakan akuntansi. Arus kas menunjukkan uang yang benar-benar diterima dan dibayarkan.

Contohnya, toko menjual barang Rp10 juta secara kredit. Pendapatan mungkin sudah dicatat, tetapi kas belum diterima. Sementara itu, pemasok dan karyawan bisa saja harus dibayar hari ini.

Contoh sederhana

Bayangkan dalam sebulan:

  • Penjualan Rp30 juta, tetapi Rp12 juta belum dibayar pelanggan.
  • Pembelian stok tunai Rp15 juta.
  • Pengeluaran operasional tunai Rp8 juta.

Kas yang diterima dari penjualan contoh tersebut adalah Rp18 juta, sedangkan pembayaran tunai Rp23 juta. Arus kas bersih contoh ini negatif Rp5 juta, walaupun penghitungan laba tetap perlu memperhatikan biaya dan persediaan yang relevan.

Tiga hal yang perlu dipantau

  1. Piutang: kapan pembayaran pelanggan diterima.
  2. Utang pemasok: kapan kewajiban harus dibayar.
  3. Persediaan: berapa banyak uang tertahan pada barang yang belum terjual.

Buat proyeksi kas mingguan yang dimulai dari saldo aktual. Tambahkan penerimaan yang masuk akal, lalu kurangi pengeluaran jatuh tempo.

Perusahaan yang membukukan laba tetap perlu memiliki kas saat kewajiban jatuh tempo.

Laporan laba rugi dan laporan arus kas harus dibaca bersama.